PENGUMUMAN

Materi Peluncuran Pedoman Penghitungan dan Pelaporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) Bidang Energi pada Sub Bidang Ketenagalistrikan dapat diunduh di sini: disini.

14 Agustus 2017

Ditjen Ketenagalistrikan Selenggarakan FGD Guna Bahas Peningkatan Efisiensi PLTU Batubara Kalori Rendah

Ditjen Ketenagalistrikan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Inspektur Ketenagalistrikan Tahap II Tahun 2017 dengan mengambil tema diskusi "Peningkatan Efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara Kalori Rendah" pada tanggal 10-11 Agustus 2017 di Tangerang Selatan.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Munir Ahmad dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya mengendalikan beban subsidi listrik dan menekan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Tenaga Listrik.

"Caranya antara lain dengan cara memantau efisiensi pembangkit-pembangkit tenaga listrik berbahan bakar fosil serta memilih teknologi konversi energi listrik yang lebih efisien dalam rencana pengembangan pembangkit ke depannya," Munir menjelaskan.

Dalam usaha pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional, sektor ketenagalistrikan masih bertumpu pada pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara. Data realisasi bauran energi primer tahun 2016, yang menjadi basis penyusunan RUPTL 2017-2026, menyebutkan bahwa dari total kapasitas pembangkit listrik milik PLN dan IPP sebesar 51.915 MW, sebanyak 23.206 MW atau sekitar 44,7 % merupakan pembangkitlistrik berbahan bakar batubara. Hal tersebut menyebabkan energi primer batubara masih mendominasi bauran energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik sebesar 54,6 %.

Selain itu, dalam draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2015-2034, yang menjadi acuan rencana pengembangan sektor ketenagalistrikan jangka panjang, energi primer batubara juga masih akan terus mendominasi bauran energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik. Pada tahun 2025, target bauran energi primer batubara untuk pembangkitan tenaga listrik adalah sebesar 50%.

Porsi penggunaan energi primer batubara yang relatif besar pada bauran energi sekarang ini maupun pada perencanaan bauran energi di masa yang akan datang disebabkan karena ketersediaan batubara kalori sedang dan kalori rendah yang melimpah. Di samping itu, prinsip pengembangan pembangkit listrik nasional mengacu pada UU 30/2009 tentang Ketenagalistrikan, yakni prinsip biaya penyediaan listrik terendah namun dengan tetap memperhatikan kecukupan daya dan tingkat keandalan daya yang baik.

Jumlah pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara yang sangat besar pada sistem ketenagalistrikan nasional menyebabkan kinerja PLTU memberikan pengaruh yang signifikan pada penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tingkat efisiensi pembangkit yang dipengaruhi jumlah bahan bakar yang dikonsumsi berpengaruh kuat terhadap BPP Tenaga Listrik, dan kemudian berkaitan erat pula dengan beban subsidi listrik yang harus ditanggung oleh Pemerintah. Dengan demikian, efisiensi pembangkit secara tidak langsung menjadi salah satu materi bahasan yang terkandung dalam penyusunan APBN.

Dalam Rencana Strategis Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dituangkan dalam Permen ESDM 13/2015, pengendalian subsidi listrik dan penekanan BPP Tenaga Listrik merupakan salah satu poin Rencana Strategis sektor ESDM yang telah digariskan.

Oleh sebab itu, Munir menambahkan, penting bagi pembangkit listrik berbahan bakar batubara, termasuk di dalamnya PLTU Batubara Kalori Rendah untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan tingkat efisiensi produksi kWh listriknya selain tetap menjaga keandalan operasi dari pembangkit listrik tersebut.

Kegiatan FGD ini diadakan dengan harapan dapat menjadi wadah komunikasi antara operator pembangkit, industri penyedia peralatan pembangkit, serta regulator untuk mengidentifikasi tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam upaya peningkatan efisiensi pembangkit batubara serta diharapkan mengidentifikasi teknologi yang tepat guna sebagai solusi peningkatan perbandingan produksi kWh listrik yang dihasilkan terhadap jumlah kilokalori batubara yang dikonsumsi.

Di samping itu, kegiatan ini diharapkan juga dapat menambah wawasan dan pengetahuan Inspektur Ketenagalistrikan dalam pelaksanaan inspeksi pemantauan keandalan dan efisiensi pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara. (AW/AMH)

Pelayanan Ditjen Gatrik

 

Website Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan by Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan