PENGUMUMAN

Keputusan Menteri ESDM Nomor 1772 k/20/MEM/2018 tentang Besaran Biaya Pokok Pembangkitan PT PLN (Persero) tahun 2017 dapat diunduh disini.

14 Oktober 2016

Laporan dari Paris: Dirjen Ketenagalistrikan Hadiri Konferensi Internasional Reformasi Subsidi Energi Fosil

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jarman, pada Kamis (13/10) menghadiri “International Conference on “Fossil Fuel Subsidy Reform” di Paris, Perancis. Acara yang diselenggarakan oleh International Energy Agency (IEA) bekerjasama dengan Pemerintah Denmark ini dihadiri oleh perwakilan dari banyak Negara, yaitu Indonesia, Meksiko, Malaysia, Jepang, Maroko, New Zealand, Inggris, Swiss, Amerika, Argentina, Brazil, Chile, China, Ethiopia, Denmark, Turki, dan Jerman. Hadir pula perwakilan dari organisasi dunia, antara lain World Bank, IMF, IISD/GSI, IADB, ASEAN, IPEEC, OECD, Oil Change International, OLADE, dan GIZ.

Dalam sambutan pembukaan acara ini, Jarman menyampaikan bahwa saat ini seluruh negara di dunia bergerak mewujudkan pembangunan energi  berkelanjutan.  “Pertumbuhan konsumsi energi dan upaya penyediaan akses listrik menjadi tantangan pada banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga diperlukan strategi untuk mengelola konsumsi energi dan menjaga harga yang terjangkau untuk generasi mendatang,” papar Jarman. Menurutnya ketidakseimbangan konsumsi energi dan harga energi menyebabkan ketimpangan sosial pada masyarakat yang berujung pada munculnya kemiskinan, borosnya konsumsi energi, maupun kerusakan lingkungan.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, yang membuka konferensi, menyampaikan bahwa pengalaman Indonesia dan Meksiko dalam upaya mereformasi subsidi bahan bakar minyak maupun subsidi listrik menjadi masukan yang sangat berharga dalam studi yang disusun oleh IEA. Ia juga menyampaikan bahwa Indonesia dan Meksiko menjadi tambahan Negara-negara anggota IEA yang saat ini telah berjumlah 29 negara.

Fatih menjelaskan bahwa terdapat banyak manfaat yang diperoleh dengan reformasi subsidi energi fosil, antara lain: meningkatkan efisiensi konsumsi listrik, mengurangi emisi karbon, dan mengurangi polusi udara dari transportasi. Ia juga menyampaikan bahwa subsidi energi lebih tepat dialihkan untuk masyarakat miskin dengan membangun infrastruktur seperti sekolah, jembatan, jalan, rumah sakit, dan lainnya. “ Hal ini lebih dapat dirasakan oleh masyarakat”, jelas Fatih.

Jarman berharap melalui diskusi tingkat tinggi dalam forum ini, khususnya dengan berbagi pengalaman dalam melakukan reformasi subsidi energi fosil, semua pihak dapat bersama-sama menyusun strategi terbaik dalam pengelolaaan konsumsi energi dengan harga yang terjangkau. “Banyak tantangan dalam menuju pembangunan berkelanjutan, oleh karenanya perlu kebersamaan dengan niat baik yang sama” urai Jarman. (DFS)

Pelayanan Ditjen Gatrik

 

Website Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan by Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan