PENGUMUMAN

Keputusan Menteri ESDM Nomor 1772 k/20/MEM/2018 tentang Besaran Biaya Pokok Pembangkitan PT PLN (Persero) tahun 2017 dapat diunduh disini.

10 Oktober 2016

Dirjen Ketenagalistrikan Paparkan Outlook Energi Indonesia Pada Working Group Penyusunan AEO-5

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jarman pada Senin (10/10) menghadiri Pertemuan Pertama Working Group Penyusun ASEAN Energy Outlook ke-5 (AEO-5) sekaligus memberikan Keynote Speech pada acara tersebut.  Pertemuan yang berlangsung sejak Senin (10/10) ini berlangsung hingga Kamis (14/10) di Sanur, Bali. Jarman dalam Keynote Speech-nya menyampaikan Outlook Energi Indonesia tahun 2015, di mana paparan tersebut bersumber dari Indonesia Energy Outlook 2015 terbitan Dewan Energi Nasional.

Outlook Energi adalah proyeksi manajemen energi yang mengacu pada tujuan dan target yang diamanatkan oleh Kebijakan Energi nasional (KEN) dan asumsi dasr lain seperti ekonomi dan sosial. “Outlook Energi menyajikan kondisi energi nasional dan proyeksi hingga tahun 2050 termasuk realisasi pemanfaatan energi, kebutuhan energi dan pasokan energi berdasarkan ketersediaan sumber daya energy,” ungkap Jarman.

Outlook Energi difokuskan pada efisiensi energi yang targetnya dapat dicapai pada tahun 2050 dengan menggunakan 3 (tiga) pendekatan proyeksi, yaitu Business as Usual (BaU) sebagai skenario dasar, dan 2 (dua) alternatif skenario yaitu Efficiency scenario (EFF) dan High Efficiency scenario (EFF-HIGH). BaU adalah proyeksi energi tanpa intervensi kebijakan Pemerintah Indonesia yang tidak akan mengubah kebiasaan historis. Skenario EFF melibatkan intervensi pengembangan energi terbarukan dan efisiensi energi. Sementara skenario EFF-HIGH menerapkan EFF sangat agresif dengan penetrasi pasar 100%.

Indonesia Energy Outlook 2015 (IEO-2015) menggunakan data tahun 2014 sebagai data tahun dasar. “IEO-2015 disusun berbarengan dengan penyusunan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menerjemahkan target Kebijakan Energi Nasional (KEN),” kata Jarman. Namun  menurutnya terdapat perbedaan signifikan antara IEO-2014 dengan IEO-2015. “Terdapat dua fokus utama IEO-2015 yaitu proyeksi kebutuhan investasi energi nasional dan proyeksi pasokan/kebutuhan energi di kepulauan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua atau NuMaPa” turturnya. Latar belakang menjadikan NuMaPa dijelaskan Jarman sebagai fokus adalah untuk mendukung Nawacita Presiden Joko Widodo khususnya poin 3 tentang membangun Indonesia dimulai dari kawasan perbatasan dengan memperkuat kabupaten dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Selain itu, dengan pertimbangan dukungan ekonomi dan infrastruktur yang relatif masih tertinggal dari daerah lain di Indonesia. 

Working Group Penyusunan AEO-5 ini dibuka oleh Direktur Eksekutif  ASEAN Center for Energy (ACE) Sanjayan Velautham, dan dihadiri oleh perwakilan negara-negara anggota ASEAN, Advisor dari GIZ/ASEAN-RESP, Fraunhofer Institute for Systems and Innovation Research ISI, para ahli akademisi dari King Mongkut's University of Technology Thonburi of Thailand, Graduate School of Energy Science Kyoto University of Japan, Nanyang Technology University of Singapore, IEA, APERC, dan Komite Nasional Indonesia World Energy Council (KNI-WEC).

Dalam sambutannya Sanjayan menyampaikan bahwa AEO-5 adalah publikasi utama ACE dimana sejak AEO-4 telah melibatkan data seluruh negara anggota ASEAN dalam penyusunan dan analisanya sehingga menjadi lebih baik. Dalam Business Plan, ACE bertindak sebagai think tank yang membantu negara anggota ASEAN dalam kerangka identifikasi kebijakan dan peraturan, dan integrasinya dalam pengembangan sektor energi. ACE juga bertindak selaku depositori dan knowledge hub untuk negara anggota ASEAN. Untuk memenuhi fungsi tersebut, ACE membentuk unit riset dan anlisis, dan manajemen data sebagai fungsi utama. AEO-5 sebagai kolaborasi antara ACE dan GIZ diharapkan sebagai sumber utama pengembangan manajemen energi dan integrasi di ASEAN.

Selanjutnya Principal Advisor for Renewable Energy Support Programme for ASEAN (ASEAN-RESP) Deutsche Gesselschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmBH Maria-Jose Poddey menyampaikan bahwa AEO-5 dibiayai oleh ASEAN German Energy Cooperation Program sebagai program kerjasama baru bagi ASEAN yang menjadi kawasan ekonomi paling berkembang di dunia. “Penyusunan AEO-5 diharapkan melengkapi pelaksanaan ASEAN Plan of Action on Energy Cooperation APAEC) 2016-2025,” ungkapnya.

Pertemuan pertama Pokja ini akan membahas konsep metodologi AEO dan pemanfaatan program pemodelan MICROFIT dan LEAP. Perwakilan negara anggota ASEAN juga akan mempresentasikan trend energi dan kebijakan masing-masing negara. Konsultan Internasional dari Fraunhofer Institute for System and Innovation Research ISI, Jerman, akan membantu mengembangkan data menggunakan aplikasi MICROFIT dan LEAP dan mengembangkan ketiga skenario berdasarkan data masing-masing. (RBS)

Pelayanan Ditjen Gatrik

 

Website Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan by Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan