PENGUMUMAN

Keputusan Menteri ESDM Nomor 1772 k/20/MEM/2018 tentang Besaran Biaya Pokok Pembangkitan PT PLN (Persero) tahun 2017 dapat diunduh disini.

28 September 2016

Wapres Buka Seminar dan Pameran HLN Ke-71

Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka Seminar dan Pameran Hari Listrik Nasional (HLN) Ke-71 di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (28/9). Acara seminar dan pameran yang akan dilaksanakan hingga Jumat (30/9) tersebut diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan peringatan Hari Listrik Nasional yang akan diperingati pada 27 Oktober 2016 mendatang. Turut hadir dalam acara tersebut Menteri BUMN Rini Soemarno, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jarman, serta Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir.

Dalam sambutannya, Jusuf Kalla melihat bahwa listrik telah menjadi kebutuhan dasar yang keempat. Untuk itu membangun infrastruktur kelistrikan menurutnya bukan semata-mata hanya masalah peningkatkan prosentase elektrifikasi semata namun berkaitan dengan keberlanjutan sumber energinya. Karena listrik sudah menjadi kebutuhan dasar, maka para pihak yang memenuhi kebutuhan listrik harus melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Selain itu penyedia kebutuhan listrik harus dapat mewujudkan Catur Cita Ketenagalistrikan yang terdiri dari kecukupan, kompetitif, berkelanjutan dan merata. “Karena listrik sudah menjadi pendukung kehidupan dasar maka tentu juga menjadi prioritas dasar maka kita harus menjaga jumlahnya, kualitasnya, dan juga kesinambungannya,” jelasnya.

Jusuf Kalla kembali mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan listrik sehari-hari. Hal itu perlu dilakukan untuk menekan angka subsidi energi yang diberikan negara. JK berharap tidak mengulangi kesalahan masa lalu, dimana pada tahun 2014 subsidi listrik mencapai Rp 100 triliun dari total Rp 390 subsidi yang didisitribusi negara. “Padahal dengan Rp 100 triliun kita bisa bangun 10 ribu megawatt listrik. Jadi ongkos keterlambatan adalah larinya ke subsidi,” kata Wapres. Hemat energi menurutnya dapat dilakukan dengan langkah-langkah sederhana, yaitu mematikan peralatan listrik jika keluar ruangan serta mengenakan pakaian yang tidak membuat gerah di suhu tropis. Menurutnya, pakaian batik merupakan pakaian yang tepat untuk dikenakan masyarakat Indonesia, sebab dibandingkan mengenakan jas di acara-acara resmi, suhu udara tidak perlu dingin namun bisa sesuai suhu ruangan standard yaitu 25 derajat celcius.

Usai membuka acara, Jusuf Kalla mengunjungi berbagai stan dari peserta pameran salah satunya booth Kementerian ESDM yang diikuti oleh Ditjen Ketenagalistrikan, Ditjen EBTKE, Badan Litbang ESDM, serta Badan Pengembangan SDM Kementerian ESDM. Dalam kunjungannya tersebut, Jusuf Kalla mendapat penjelasan dari Dirjen Ketenagalistrikan terkait progres pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW serta langkah-langkah yang dilakukan pemeritah untuk mensukseskan program prioritas nasional tersebut.

Menurut Ketua Umum Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Supangkat Iwan Santoso, acara seminar dan pameran ini diikuti oleh pelaku usaha di bidang ketenagalistrikan dan para pemangku kepentingan yang terdiri dari perusahaan pengembang ketenagalistrikan (IPP), industri komponen ketenagalistrikan, kontraktor, pemerintah, perguruan tinggi, dan asosiasi di bidang ketenagalistrikan. (PSJ)

Pelayanan Ditjen Gatrik

 

Website Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan by Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan