PENGUMUMAN

Coffee Morning                                  Keseluruhan materi coffee morning Permen 02 tahun 2018 tentang pemberlakuan Wajib SNI di Bidang Ketenagalistrikan dapat diunduh disini.

29 Januari 2018

Kementerian ESDM Sederhanakan Regulasi Wajib SNI Ketenagalistrikan

Sebagai upaya meningkatkan keselamatan ketenagalistrikan, mendukung pelaksanaan Paket Kebijakan Ekonomi XV yang berfokus pada Pengembangan Usaha dan Daya Saing Penyedia Jasa Logistik Nasional, dan melaksanakan instruksi Presiden untuk menyederhanakan peraturan/regulasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pemberlakukan Wajib Standar Nasional Indonesia di Bidang Ketenagalistrikan. Peraturan ini disosialisasikan dalam coffee morning bersama pemangku kepentingan, Senin (29/1).

Dirjen Ketenagalistrikan Andy N Sommeng dalam sambutannya menyampaikan bahwa Aturan baru ini merupakan penataan dan penyederhanaan sepuluh Peraturan Menteri dan Satu Keputusan Menteri ESDM terkait produk Wajib SNI ketenagalistrikan menjadi satu Peraturan Menteri ESDM. "Regulasi ini lebih sederhana dengan mencabut dan menggabungkan/menyederhanakan beberapa regulasi lama terkait standar wajib untuk Luminer, Pemutus Sirkuit Arus Searah (MCB), Sakelar, Kipas Angin, Tusuk Kontak dan Kotak Kontak, Ballast Elektronik, dan pemutus Sirkuit Arus Sisa (RCCB)," ungkap Andy.

Andy mengatakan bahwa tujuan dari pemberlakuan wajib SNI di bidang ketenagalistrikan adalah untuk memenuhi aspek keselamatan ketenagalistrikan sesuai Pasal 44 Undang-undang Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. "Penggunaan peralatan listrik ber-SNI diharapkan dapat menghindarkan kita dari bahaya akibat penggunaan listrik, " ungkap Andy. Sebab selain bermanfaat, listrik juga berbahaya, sehingga perlu diterapkan aturan-aturan keselamatan ketenagalistrikan dimana salah satunya adalah penerapan wajib SNI produk-produk tenaga listrik.

Permen ESDM Nomor 2 tahun 2018 ini disebut Andy lebih memperjelas pengklasifikasian produk peralatan tenaga listrik sehingga lebih mudah dalam pengawasan melalui penambahan kode Ex pada kode pengklasifikasian produk perdagangan atau Harmonized System (HS) peralatan tenaga listrik.

Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, tujuan utama standardisasi adalah melindungi produsen, konsumen, tenaga kerja dan masyarakat dari aspek keamanan, keselamatan, kesehatan serta pelestarian fungsi lingkungan. Standardisasi diharapkan mampu mendorong, meningkatkan, menjamin mutu barang dan/atau jasa serta mampu memfasilitasi keberterimaan produk nasional dalam transaksi pasar global. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk barang dan/atau jasa Indonesia khususnya terkait ketenagalistrikan di pasar global.

Hadir dalam coffee morning ini Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Harjanto. Sebagai pembicara hadir Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Munir Ahmad, Kasubdit Pengawasan Logam, Mesin, dan Elektronika, Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Kementerian Perdagangan, Ngadiono, dan Kepala Bidang Perumusan Mekanika, Elektronika dan Konstruksi Pusat Perumusan Standar BSN Nukman Wijaya. Sebagai moderator diskusi Sekretaris Ditjen Ketenagalistrikan Agoes Triboesono. (PSJ

Pelayanan Ditjen Gatrik

 

Website Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan by Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan